Posted in Thoughts

Internet is a really scary place

Remember the good old days ketika untuk tau apa yang sedang dilakukan oleh temen, kita harus paling gak lagi smsan sama mereka? Atau bahwa kita harus bener-bener deket dan udah ngobrol lama sama seseorang untuk tahu hal sesimpel apa sih interest dia, kapan sih ulang tahun dia, those kind of trivial stuffs?

Remember the good old days when we have to actually befriend someone to know them better?

Sekarang sih, kita gak perlu terlalu ribet melakukan semua itu. Kan ada social media. Be it facebook, twitter, path, instagram, tumblr, atau apalah social media lain yang lagi hip sekarang. Kita tinggal ngefollow atau jadi friend seseorang di social media tersebut dan voila, kita bisa langsung tahu banyak tentang mereka. Bahkan kalaupun sebenernya di dunia nyata the two of you are total strangers. Why not, ketika nyatanya toh social media memang membuat batas antara mana yang private dan mana yang enggak semakin blur. Dan kita sebagai penggunanya lah yang mendorong perkembangan ini.

Sadar gak sadar, kita para pengguna social media ini makin lama jadi makin narsis dan hobi membagi berbagai informasi soal kita. Karena kita merasa bahwa sekarang kita punya audience, punya orang-orang yang tertarik dengan segala aspek kehidupan kita, dan kita pun jadi merasa perlu untuk memberi tahu mereka soal apa yang sedang kita lakukan atau film apa yang kita sukai untuk mengukuhkan ke-eksis-an kita di dunia maya. Makanya, jangan heran kalau isi timeline social media kalian makin lama makin absurd. Pamer foto makanan di instagram atau nyinyirin orang  pake #nomention dan curhat colongan di status facebook sama twitter itu udah biasa. Bahkan pacaran norak di twitter juga udah jadi sesuatu yang lazim, regardless bahwa yang ngeliat mungkin udah gemes banget pengen ngemention dan bilang “Gue beliin pulsa aja deh sini daripada kalian pacaran di timeline dan bikin mata gue sepet.” Atau mungkin gue aja yang nyinyir karena kesel liat orang lain-lain ber-unyu-bordering-alay ria sementara gue cuma bisa ngeunyuin cowok-cowok parasocial di layar leptop. I’m not saying that there’s anything wrong with doing all those things though, secara saya juga masih suka nyampah di twitter.

Tapi kemudian beberapa minggu yang lalu saya iseng download arsip twitter. Needless to say, tweet-tweet saya di tahun 2009 dan 2010 bikin saya mau nangis malu. Apalagi saat video ini kemudian muncul di timeline, thanks to @_ashaninka (dan anyway, baca deh post dia soal web suicide machine. It’s fun and indormative, and I’m pretty sure you’ll feel like you need one once you reach the end of this post)

Have you watch the video? No? But you should! Oh well okay maybe you have slow internet connection and buffering is a pain the ass, or maybe you’re just too lazy. Either way, I’ll just tell you what’s in that video. It’s a video in which Jack Vale freak people up by coming up to them and starts spouting this whole “personal information” about them. Creepy much?

Masalahnya adalah kemudian saya sadar bahwa it could as easily be me. Bisa aja itu saya, yang lagi duduk nyantai di coffe shop terus tiba-tiba didatengin total stranger yang ternyata tau banyak soal diri saya. Karena selama ini, saya gak cuma nge-tweet untuk dibaca oleh followers saya (yang bahkan belum tentu semuanya saya kenal di kehidupan nyata) itu. Tweet saya juga bisa dibaca oleh total stranger yang gak nge-follow saya.

Apalagi kalau omongannya udah sama google. Setelah kelas #MedConv13 kemarin, saya iseng nge-google nama saya sendiri. Dan hasilnya, saya nyaris loncat dari kursi saat sadar kalau monyet, kenapa ada link ke blog lama yang bahkan gue sendiri udah lupa urlnya apa?!!! Gak cuma itu, bahkan ada link ke beberapa profil di social media yang gak pernah saya urus kayak Plurk atau Google+, dan juga link ke blog temen-temen saya. Pokoknya, kayaknya gak mungkin ada yang gak kaget saat lihat search result dari nama mereka sendiri di google. Coba aja kalau gak percaya, I double dare you. Dan anyway, ketebak kan lanjutannya? Iya, saya langsung ngehapusin blog-blog lama dan juga ngerubah privacy setting di Facebook. Panik bruh! I’m actually half-tempted untuk ngehapusin tweet-tweet lama, tapi masalahnya ngebacktrack ke tweet pertama secara online itu bakal susah banget karena tweet saya udah sekitar… wait… oh right, 19.800an. Peer banget kalau harus ngebacktrack.

I guess I never actually realized to what extent I exposed myself on internet, dan saya gak pernah bener-bener sadar bahwa once it went online, there’s only so little you can do to take it back. I mean, untung aja blog lama itu masih bisa di take down dan tweet masih bisa dihapus kalau saya mau niat ngelakuin itu. Tapi link di blog temen-temen lain yang kayaknya juga udah berdebu? Atau foto-foto yang diupload temen lain di facebook dan saya gak mau orang lain liat? Atau any other kind of digital traces that’s almost impossible to erase? Masih ada semua di internet, dan bisa diakses oleh siapapun yang mau. Dan itu juga berlaku untuk kalian semua. Scary much? Well wake up people, that’s the truth. Internet is a really scary place.

On a side note, ini jadi mendukung argumen saya sebelumnya bahwa pencitraan itu bukan dosa dan sudah sewajarnya dilakukan di internet. I’m all talk though, karena kadang pencitraan saya masih berantakan HAHAHAHA. Oh, dan saya juga jadi bersyukur karena saya punya kecenderungan untuk going anonymous alias tidak menggunakan nama asli saat bikin account di beberapa social media atau forum. Jadi lebih susah dilacak kan 😉

Advertisements

Author:

An emotionally invested enthusiast of pop culture. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

One thought on “Internet is a really scary place

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s