Posted in Thoughts

Transmedia storytelling – where fun and disaster is just a liner away

So, I will start this post with…..this

Because one, I'm oh so very excited about this movie. Two, it has Legolas, Thorin, and Cumberbatch Smaug. Which lead to three, whatever your argument against this is, it's invalid
Because one, I’m oh so very excited about this movie. Two, it has Legolas, Thorin, and Cumberbatch Smaug. Which lead to three, whatever your argument against this is, it’s invalid

So, tell me, who’s excited for The Hobbit: Desolation of Smaug? Saya sih excited setengah mati. I have always loved Tolkien’s world, and Peter Jackson hasn’t disappoint me with his way of retelling Tolkien’s story this far. Apalagi, Desolation of Smaug juga dilengkapi dengan sederetan eye candy dengan suara yang eargasmic macam Smaug/The Necromancer (played by none other than Benedict Cumberbatch with that holy voice of his), Thorin Oakenshield with his deep charismatic tone, and of course, our beloved Legolas!

Wait a second.

Legolas?

Sejak kapan kamu ada di The Hobbit, Legolas?
Sejak kapan kamu ada di The Hobbit, Legolas?

Nope, people, Legolas memang gak ada di bukunya. Tapi magically, dia muncul di Desolation of Smaug. Lengkap dengan seorang elf perempuan yang bau-baunya sih bakal jadi love interest Legolas. Jadi melalui film ini, kita bakal melihat a glimpse of Legolas’ past, cerita yang gak akan kita dapatkan di bukunya.

And that, is what Jenkins called Transmedia Storytelling.

The beauty of transmedia storytelling adalah kita bisa melihat sebuah cerita dalam berbagai media yang berbeda dan kadang, seperti dalam kasus Legolas dan The Hobbit ini. Kalau gak ada film The Hobbit, gak bakal kita bisa dapet cerita tambahan soal Legolas ini. Well, kecuali dari fanfiction – yang sebenernya juga merupakan hasil dari transmedia storytelling, kalau menurut Jenkins – but that is another story lah ya. Dan LOTR serta The Hobbit bisa dibilang adalah salah satu contoh transmedia storytelling yang sukses. Because transmedia storytelling can as easily turns into a disaster.

An example of transmedia storytelling gone wrong
An example of transmedia storytelling gone wrong

Kedua film Percy Jackson, baik Lightning Thief dan Sea of Monsters, in my opinion, adalah contoh nyata dari bagaimana transmedia storytelling justru bisa jadi sesuatu yang merugikan. Berkebalikan dengan franchise film Harry Potter, Lord of The Rings, atau baru-baru ini Hunger Games, yang melambungkan nama novel aslinya, franchise film Percy Jackson justru membuat orang-orang memandang novelnya dengan sebelah mata. Atau paling tidak, itulah efek yang seharusnya ia hasilkan.

Rick Riordan was a great storyteller. His books are awesome, Percy Jackson and the Olympian series included. However, the movie made the story looks like a total crap.

Dalam transmedia storytelling, harusnya media satu dan media lainnya menyampaikan cerita-cerita yang pada akhirnya membentuk suatu dunia yang utuh. Like what The Hobbit did. Biarpun mungkin ada perubahan dan perbedaan antara versi film (e.g Legolas’ appearance), tapi sejauh ini dan saya rasa untuk ke depannya, The Hobbit tetap setia pada pakem Tolkien dan justru berkontribusi terhadap pengembangan dunia Middle Earth.

Sayangnya, hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk Percy Jackson. Lightning Thief nyaris merombak total cerita mengenai petualangan Percy Jackson, bahkan hingga menghilangkan keberadaan villain utama.  Sea of Monster sedikit lebih baik karena ia berusaha untuk lebih mengikuti pakem bukunya, tapi toh tetap saja melakukan beberapa perubahan besar. Kalau mau jahat, saya bisa bilang kalau versi film franchise ini sekedar mencomot karakter dan inti cerita, lalu mengembangkannya sendiri tanpa benar-benar melirik mitologi Yunani yang justru membuat serial ini menarik.

Omong-omong mitologi Yunani, I found what Rick Riordan did very interesting, Biasanya kan kita menganggap budaya Amerika sebagai sesuatu yang global dan negara atau budaya lain lah yang harus me-lokal-kan budaya Amerika. Tapi melalui buku-bukunya, kita bisa melihat bagaimana Rick Riordan me”lokal”kan mitologi Yunani (Percy Jackson and The Olympians), Romawi (Heroes of Olympus) dan bahkan Mesir (Kane Chronicles). Epic-nya lagi, ketiga mitologi yang berbeda itu ditampung oleh universe yang sama, dengan kemungkinan akan terjadinya crossover di masa depan. Dan universe itu berada di Amerika, dengan segala kebudayaannya.

Lebih menarik lagi kalau kita lihat bahwa dengan melakukan “lokalisasi” mitologi-mitologi tersebut menjadi lebih Amerika, Rick Riordan justru dengan tidak sengaja mengglobalkan mitologi-mitologi tersebut karena, well, karena Amerika is the synonym of global kan ya. Apalagi setelah bukunya diterbitkan dalam berbagai bahasa dan film adaptasinya ditayangkan worldwide. Not only that, Percy Jackson juga sudah dibuat graphic novelaudiobook, dan bahkan video game-nya. Transmedia storytelling yang semakin mengglobalkan hasil lokalisasi Rick Riordan terhadap beberapa mitologi kuno negara dan budaya lain.

Though, in my personal opinion, I still think that Percy Jackson’s universe’s transmedia storytelling has done more damage than good. From the bad movie adaptation to the mediocre reception for the video game, I don’t think their audiences would actually bother to go read the books and expands their knowledge about this certain universe.

Makanya, transmedia storytelling sebenernya memang bagaikan pedang bermata dua. It can expand a certain universe dan membuat para fans semakin terikat dengan universe tersebut, but it can be a boomerang and destroy the coherency of said universe instead, creating rifts and major plot holes.

Nevertheless, this is the era of convergence, where you can’t help but to accept the truth that transmedia storytelling is happening. All we can do is hope quietly that the transmedia moves that those major media companies pulled does not turns our beloved universe into a huge disaster.

Advertisements

Author:

An emotionally invested enthusiast of pop culture. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

5 thoughts on “Transmedia storytelling – where fun and disaster is just a liner away

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s