Posted in Thoughts

Pencitraan is (not) a sin

Kalau ngomongin keragaman social media dan blogs, orang-orang mungkin akan teringat active engagement, extended audience, produsage, dan entah apa lagi. But for me, social media and it’s diversity reminded of a very different things: family.

Ngaku deh, siapa di sini yang belingsatan saat orang tua atau anggota keluarganya yang lain tiba-tiba punya account Facebook dan ngajuin friend request? Berasa buah simalakama gak sih. Kalau dibiarin atau ditolak, bisa jadi anak durhaka. Tapi kalau diterima…berarti mereka bisa liat isi account Facebook gue dan…*bergidik ngeri*

Dan menurut pendapat gue, ini juga yang bikin orang-orang dengan senang hati bermigrasi ke Twitter. Bukan cuma karena socmed yang satu itu sangat enak buat curhat ataupun buat interaksi sama temen-temen, tapi juga karena dia relatif “aman” dari anggota keluarga kita.

Or so I thought.

SayangnyaUntungnya, gue diberkahi dengan keluarga yang lumayan update soal teknologi dan juga media sosial. Sejak SMA, gue mulai merasakan yang namanya kejar-kejaran sama keluarga dari satu platform ke platform lainnya. Because it’s just…awkward.

Awkward went on a whole new level ketika tiba-tiba ada anggota keluarga yang mengungkit blogpost/status FB/tweet soal kehidupan sekolah atau kuliah (read: kemalasan dan berbagai perbuatan kurang terpuji lain), keluhan soal anggota keluarga yang lain atau – god forbid – kegalauan atas a certain someone who shall not be named because gue udah ngegalauin oh-so-many-people sampe gue sendiri lost count #dankenapaelojadicurhatwoy

Hasilnya? Gue jadi lebih menyeleksi konten blogpost, mulai meninggalkan Facebook, dan bahkan bikin account twitter lain (yang awalnya untuk fangirling tapi akhirnya malah buat nyampah ahahahay)

To be honest sih, gue agak-agak merasa bersalah :””” Tapi ya gimana, there are things that’s just a bit awkward to share with your family members. Like, gimana reaksi ortu gue kalau tau betapa nistanya gue saat ogling fangirling idol K-Pop atau aktor yang notabene udah di atas 30 semua itu deh? Dan sebenernya, agak blingsatan juga sih nulis soal ini karena gak kebayang aja bakal diapain kalau ada yang baca…

Untungnya, setelah ngebaca jurnal “Youth, Social Media, and Connectivity in Japan” karya Toshie Takahashi, gue jadi punya pembelaan. Karena orang Jepang aja bisa merasa tertekan dan terkungkung oleh uchi (family included) di Mixi, serta takut akan reaksi negatif dari para followers mereka di Twitter. Bahkan ada juga orang Jepang yang punya twitter dua. In other words, I’m not alone! (BGM: Saosin’s You’re Not Alone).

Basically sih, gue mau bilang bahwa pencitraan itu wajar dilakukan, karena sisi yang kita tampilkan di setiap uchi atau kelompok tertentu memang berbeda. Sosok gue di lingkungan keluarga dan sosok gue di lingkungan kampus adalah dua pribadi yang cukup berbeda. Begitu pun sosok gue di depan temen-temen SMA dan di depan temen kuliah. Semakin banyak lingkungan pergaulan dan semakin diverse orang yang bisa mengetahui celotehan kita di social media tertentu, semakin kecil juga lingkup topik “aman” yang bisa kita angkat. Apalagi karena gak semua orang itu mengenal kita dengan baik, dan konteks di internet itu bisa di-salah artikan dengan sangat mudah. Kapan itu, gue pernah nge-tweet soal kelompok tugas yang tiba-tiba berubah. Bagi gue dan temen-temen deket gue, tweet sinis itu biasa aja. Tapi bagi yang bersangkutan (karena entah gimana orang yang bersangkutan baca itu tweet), komentar gue itu menyakiti harga diri gue dan bikin dia ngamuk di-sms. Lebih jauh lagi, anak-anak Komed yang baca tweet itu jadi menganggap gue serem padahal I swear, tweet itu nothing near me being mad. Gue jauh lebih jahat lagi aslinya kalau marah. Tunggu aja tanggal mainnya #kemudian.

Ahem.

Berangkat dari munculnya kesadaran bahwa “tweetmu harimaumu” itu lah, gue memutuskan untuk bikin account twitter baru karena gue merasa butuh tempat untuk vent out. Buat menumpahkan segala kehidupan fangirling gue dan juga nggremeng atau nyinyir tanpa harus menghadapi resiko munculnya masalah serta yang lebih penting, tanpa merusak image. Karena akun virtual gak bener-bener punya image kan. Although to be honest, sekarang udah mulai blur juga karena aktivitas fangirling kadang nyelusup ke akun “normal” gue. Tapi sudahlah, yang penting akun sebelah masih bisa buat nyinyir #sikap.

Makanya, bohong banget kalau ada yang bilang bahwa mereka gak pencitraan di Twitter. Gak ngetweet aja udah terhitung sebagai pencitraan kan sebenarnya. But it’s alright, karena at the end of the day, pencitraan is not a sin dan kita bebas menciptakan “pribadi” kita di Twitter atapun di social media lainnya.

Advertisements

Author:

An emotionally invested enthusiast of pop culture. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

One thought on “Pencitraan is (not) a sin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s