Posted in Thoughts

With great power, comes great responsibility

Ada yang masih inget dengan quote dari Uncle Ben dalam film Spiderman itu? Iya, Spiderman pertama, yang peter Parkernya masih si Tobey Maguire dengan muka melasmya, bukan Andrew Garfield yang ganteng itu.

Percaya gak percaya, quote itu sebenarnya berhubungan erat dengan internet dan konvergensi media. Apa hubungannya? Well, mari kita backtrack sebentar.

Beberapa hari yang lalu, timeline salah satu twitter saya diramaikan dengan isu soal sasaeng yang nge-crash wedding kakaknya Baekhyun. Infonya simpang siur, dan bahkan temen saya bilang itu cuma rumor yang gak bener. Tapi kemudian saya baca artikelnya di netizenbuzz, dan saya jadi percaya sama berita itu. Kenapa? Karena netizenbuzz adalah website yang nge-translate komen-komen netizen terhadap artikel yang lagi heboh di Korea, so the news are legit. Emang itu yang kejadian dan lagi heboh di kalangan netizen di Korea. In other words, it’s credible.

And that’s what we’re going to talk about here: credibility.

Sebelum ini, saya udah pernah bilang kalau “everything you would possibly want to find is available on the internet. You just have to search for it.” Dan ini emang bener. Dengan adanya internet sekarang, arus informasi jadi bisa dibilang tidak terkontrol dan ada banjir informasi dari segala sumber. Which is good, karena kita jadi makin aware sama situasi apapun yang terjadi.

Masalahnya, gak semua informasi yang ada di internet itu bener. Oh no, jangan salah. Internet itu justru dipenuhi oleh tukang PHP yang memberikan false hope. Katanya, trailer 50th Anniv bakal diupload ke Youtube beberapa jam setelah SDCC. Nyatanya, sampe sekarang trailer itu belum keliatan wujudnya cuma ada teaser trailer 10 detik super PHP yang ISINYA BAHKAN CUMA LAYAR ITEM DENGAN TULISAN #SAVETHEDAY DAN TANGGAL RILIS DOANG. Katanya Fifth Estate bakal premier kemaren September. Nyatanya rilisnya ternyata tanggal 18 Oktober besok. Katanya House of Hades bakal rilis fall ini. Udah satu bulan setelah fall dimulai, dan itu buku belum ada bunyi-bunyinya. Katanya om Minu mau solo kambek Agustus. Nyatanya, rencana kambeknya masih bulan depan sekalian 10th anniv solo debut. Katanya, S.M. The Ballad mau kambek Oktober ini. Yang ada, malah SHINee yang tiba-tiba kambek LAGI. Yes, people, this is a rant dari fangirl yamg sering jadi korban PHP.

Tapi kalau mau ngomongin kredibilitas informasi di internet, kayaknya paling asik kalau kita ngomongin Boston Bombing deh. Masih pada inget Boston Bombing kan? Dan pastinya pada inget juga kalau cuma beberapa jam setelah kejadian itu, langsung heboh banyak cerita-cerita super heartbreaking yang bikin gue pengen merajam si pengebom. Ini salah satunya.

red-shirt

source: snopes.com

My heart breaks into tiny little pieces when I read the news. Sedih setengah mati. Biadab banget sih itu yang ngebom.

Kali kedua gue membaca ulang berita itu, gue mikir: Anjir ini fanfiction banget ceritanya. Ala fanfiction-fanfiction angst yang memang didesain untuk bikin pembacanya depresi. Kayak fanfic RicMin sama fanfic MinSyung yang gue baca kapan itu #kemudian

Still, my heart goes out to the couple lah ya.

But.

Then.

It turned out to be nothing more than a hoax.

Monyet.

Cowok-cewek itu gak pacaran. Noooo, not even close. The boy was just a stranger who tries to aid the injured girl. And that girl is alive. Baca aja di sini.

Pesan moral? Jangan gampang percaya sama berita yang kalian baca di internet. Bisa jadi itu cuma hoax, dan kemudian bikin malu di akhir karena terlanjur ngeributin berita bohong.

But no, that’s not the end. Karena ada kan pertanyaan itu.

Kok bisa sih?

Produsage, people. Produsage.

Karena sekarang semua orang bisa punya akses ke internet dan in turn, sekarang semua orang bisa memproduksi konten. That little device in your hands is the key to a great power, the power that we used to only be able to dream about: the power to produce.

Gak bisa dipungkiri kan kalau internet memang memberi kita power untuk memproduksi konten sebagai sarana dari individual expression kita. And this is very true, karena dengan adanya internet jadi jauh lebih mudah bagi gue untuk mengekspresikan pendapat gue terhadap beberapa stuff yang menurut gue outrageous atau gak masuk akal. Like my hate towards all stupid violent action made by FPI. Atau implicit filter di Indonesia, di mana menteri kita tercinta memutuskan untuk nge-banned porn site. Like, buat apa juga elo ban. Apa untungnya sih. Dan plis deh, I’m old enough, I have the right to watch porn! (Not that I want to sih, but still…Itu hak gue kan) Apalagi ketika kemudian sebuah website tentang gay rights ikut di-banned karena dianggap mengandung pornografi. WTF government. Plain WTF.

Cuma, power di internet juga gak terdistribusi segitu ratanya. Tetep ada penghalang-penghalang kayak implicit filter – like banned website, or slow internet access. Masih ada juga cost of entry kayak duit yang mesti dikeluarin buat beli gadget sama pulsa HP atau pulsa modem. Dan ada skill juga kan, karena orang yang gak bisa main photoshop (like me) gak akan bisa iseng ngedit foto Hyesung dan bikin kita keliatan kayak foto bareng (NOT THAT I WANT TO JUGA SIH. Gue gak sedelusional itu, okay). Intinya, masih ada barrier yang sebagian dipengaruhi oleh faktor demografis kayak lokasi, ekonomi, dan juga pendidikan.

But those who can overcome the barriers, mereka yang punya koneksi internet dewa dengan skill yang juga patut diacungi jempol, well mereka bisa memanfaatkan segala possibility yang disediakan oleh internet untuk membuat konten.

Termasuk, memproduksi konten yang gak bener alias palsu.

And that bring us back to the start – Uncle Ben’s quote. With great power, comes great responsibility. Karena sekarang kita punya kekuatan untuk memproduksi, sekarang kita juga punya tanggung jawab untuk tidak menyalahgunakan kekuatan itu.  Because that power, though it seems insignificant, can cause more damage than what you can possibly imagine. Gak percaya?

Look at Fifth Estate Wikileaks. It’s just a website loh. But it have the power to create havoc, to make the people distrust their government, it have the power to unveil the ugly truth and with that, all the “ugly” after effects.

And that is why responsibility is very important. Karena konten apapun yang kita buat dan sebarkan di internet, bisa menghasilkan efek-efek yang mungkin tidak kita inginkan.

Untungnya, orang-orang juga perlahan belajar kok. Pelan-pelan, kita mulai bisa memilah dan menyaring berita-berita yang kita temukan di internet. Kita belajar untuk menilai kebenaran berita itu dan penilaian kita didasarkan pada siapa yang membuat berita itu. Berita yang muncul dari Kompas.com? Bisa dipercaya. Detik.com? Ehhh, not so much. Berita yang cuma muncul di timeline karena tweet entah siapa diretweet oleh seseorang yang kita follow out of courtesy? Paling juga cuma diliat sekilas lalu.

That’s credibility.

And that’s what we all aspire to be – to be credible.

To be trusted.

Advertisements

Author:

An emotionally invested enthusiast of pop culture. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

3 thoughts on “With great power, comes great responsibility

  1. hahaha cerita ‘dramatis’ Boston Bombing itu rame bgt loh ti di Path. trus gue pernah repath that exact same picture you posted. dan abis tau itu trnyata hoax……malu setengah mati sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s