Posted in Thoughts

Budaya googling: Are you addicted yet?

“Di google ada kok.”

“Errr gue gak tau. Bentar deh gue googling dulu.”

“Umur Cumberbatch berapa sih? Googling-in dong.”

Familiar sama kalimat-kalimat di atas? I suppose so, karena mereka memang sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Iya, termasuk kalimat terakhir yang memang pernah keluar dari mulut saya itu. Suka tidak suka, sadar tidak sadar, google adalah salah satu komponen media baru yang sudah terintegrasi dengan kehidupan kita. Hayo, berapa banyak di antara kalian yang disambut dengan tampilan ini setiap membuka browser?

google

Atau kalaupun kalian tidak menjadikan google sebagai default homepage browser kalian, rasa-rasanya sebagian besar orang masih menjadikan google sebagai default search engine. Enggak, itu bukan sesuatu yang salah. I myself turn to google every now and then. Basically, every time I need to find out about something – or someone, I googled them.

And it makes life a whole lot easier, isn’t it? Butuh jurnal buat tugas MPK? Cari di google. Pengen tahu review film yang lagi tayang di bioskop? Di google banyak. Kenalan sama cowok ganteng dan penasaran sama twitternya? Google aja coy. In needs of some fluffs? Go google it. Asik ya? Cuma dengan modal browser dan koneksi internet yang yahud, kita bisa tahu segala hal yang pengen kita ketahui, and even more. Because this,

shinhwaDon’t judge, okay. Ini kan cuma contoh

 

Could easily lead to this:

gege

It really could, though. Because Shinhwa leads to SM and SM leads to Suju and Suju inevitably leads to Gege

 

Now, we could started off trying to find out more about A, and easily ended knowing more than enough about not only A, but also B, C, D…and even Z, if you persist.

And that, ladies and gentleman, is what we call “hyper access”.

Tentunya, hyper access ini bisa terjadi karena ada konvergensi media, dan dengan didukung oleh perangkat serta koneksi internet yang memadai (yang di belakang agak susah untuk dipenuhi, karena more than often koneksi di Indonesia itu bapuk). Tapi toh yang penting, sekarang kita bisa dengan mudah memperoleh informasi soal sesuatu, atau seseorang. Semuanya ada di internet.

Dan kemudahan itu bisa menjadi sesuatu yang adiktif. Maybe it’s just me being morbid, but I personally feel that we rely too much on the internet to tell us whatever it is we need – or want – to know. Kita terbiasa googling saat butuh jawaban mengenai sesuatu, dan internet menjadi sumber yang memenuhi rasa penasaran kita mengenai…apapun.

Jadi ketika budaya googling ini menjadi sesuatu yang lazim, dan semua orang terbiasa mengakses internet dan menikmati kemudahan dari hyper access setiap harinya, cuma ada satu pertanyaan yang tersisa:

Are you addicted yet?

Advertisements

Author:

An emotionally invested enthusiast of pop culture. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

7 thoughts on “Budaya googling: Are you addicted yet?

  1. Darling, your fangirl is showing. *giggles*
    Good post, very relatable karena I’m one of those people staying up all night karena setelah ngegoogle satu artikel nemu yang lain dan hap hap hap hap tiba-tiba jam 3 pagi. It’s a huge (welcomed) distraction.

    Question. Ini two-way street kan ya? The more information we got from the Net, the more we give. And seeing google as a /corporation/…this could be dangerous, couldn’t it? Thoughts?

    1. I did it in purpose *giggles uncontrollably* Because last post was so… meh so I decided to spice things up a bit and write in my “normal” way. Is even thinking of editing the last post…

      So, two-way street, huh? Gue juga kepikiran itu sebenarnya semalem. But I’m a bit delirious while writing so I decided to scrap it. Thanks for bringing it back to life.

      To be very honest, yes. It is dangerous. Makin lama emang batas antara mana informasi yang sifatnya personal dan mana yang ada di ranah publik makin blur. Dan parahnya, kita sendiri suka gak sadar bahwa informasi yang lagi kita baca itu sebenarnya sesuatu yang bersifat personal, yang harusnya tabu untuk kita kepo-in. Sama kayak kita suka gak sadar kalau kita lagi majang informasi yang personal untuk diliat, dibaca, diinget, dan diketawain atau dikomentarin oleh semua orang yang bisa ngakses internet. Padahal kita bukannya gak tau soal ini, dan bukannya gak pernah berkali-kali diingetin soal ini kan di kelas?

      And about google as a corporation, well, think about their personalized ads. Udah? Kemudian bandingin sama ini:

      Gue, sebagai temen lo, tau kalau elo diem-diem suka sama… SHINee misalnya. Terus gue ngasih tau salah satu temen gue yang lain – yang gak kenal elo sama sekali – kalau elo lagi nyari album Misconception of Us. Terus temen gue yang itungannya total stranger buat lo itu tiba-tiba sms nawarin albumnya. Creepy, gak sih? Dan lo pasti kesel setengah mati sama gue karena gue udah nyebarin informasi soal elo seenak hati gue.

      Nah, padahal itu kan yang sebenernya dilakukan oleh google? The more time we spend on google, the more they know about what we likes and what we wants. So google knows our personal preferences, and in a way, they “sell” it to those other companies. And since google is a corporation, then that means their commodity is information. Termasuk di dalamnya informasi mengenai kita yang kita “relakan” untuk menjadi publik, entah secara sadar ataupun enggak.

      So yeah, it’s dangerous. More than often, portofolio online kita di internet menampilkan lebih dari apa yang kita inginkan dan seremnya lagi, sekali kita merelakan satu informasi untuk masuk ke internet, there’s no way of taking it back.

      (Does this even make sense. I’m sorry if it doesn’t because I’m delirious and half-asleep and I need coffee. Now)

      1. That actually made a lot of sense. The allegory though *scrunches nose* thank you for not using any…riskier information.

        “Sama kayak kita suka gak sadar kalau kita lagi majang informasi yang personal untuk diliat, dibaca, diinget, dan diketawain atau dikomentarin oleh semua orang yang bisa ngakses internet.” Just so you know, my junior at work found that embarassing hanbok picture of me you posted on my birthday last year and laughed the shit out of himself. *crosses arms*

        The key is then in media literacy. Hm. I /might/ make a post about that one day……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s