Posted in Thoughts

Produsage dalam fandom

Pernah dengar soal ProdusageWell, according to Brunsprodusage is a new hybrid form of simultaneous production and usage. Canggih ya? Pastinya itu cuma mungkin karena perkembangan zaman dan teknologi yang membuat media semakin konvergen, dan juga memudahkan hidup kita. Karena konvergensi media pula produsage bisa dilakukan oleh semua orang. Kenapa? Karena user-generated content itu gak cuma entry wikipedia atau citizen journalism melalui tulisan, video, atau foto. Ngetweet sebagai respon terhadap artikel soal tanggal rilis Kick Ass 2 pun sudah termasuk memproduksi konten, yang pada gilirannya akan dikonsumsi lagi oleh orang lain. Hanya saja, tidak semua orang sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu terhitung sebagai produksi konten dan dapat dikategorikan sebagai “produsage”.

Lucunya, biarpun saya baru tahu istilah produsage di kelas #MedConv13 beberapa hari yang lalu,tapi perilaku produsage rasa-rasanya gak asing buat saya. Sudah jadi rahasia umum kan ya, kalau saya itu a dedicated fangirl who spends most of my time dwelling in the internet to catch up with all of my fandom(s). Dan dunia fandom itu berhubungan erat dengan produsage karena seperti kata Henry Jenkins, “media fans are consumers who also produce, readers who also write, spectators who also participate” (quoted from here). Jadi sejak dulu, fans gak cuma mengonsumsi konten produk media dengan pasif. Mereka juga memproduksi konten-konten baru, based on the media products. Tapi, begitu ada konvergensi media, memproduksi serta menyebarkan konten baru tersebut untuk dikonsumsi fans lain jadi lebih gampang. And as a fangirl, I’m eternally grateful for this produsage culture.

Sherlockology

a screenshot from Sherlockology

Sherlockology adalah website bikinan para Sherlockian (a.k.a fans serial televisi “Sherlock” courtesy of BBC) untuk fans-fans lain. Di Sherlockology, kita bisa nemu penjelasan lengkap soal karakter, episode, aktor dan aktris, kru, lokasi syuting, dan bahkan properti sama pakaian yang dipake dalam SherlockClearly, mereka gak mungkin memproduksi konten-konten itu kalau mereka sendiri gak nonton atau mengonsumsi Sherlock kan. Tapi terus mereka cukup dedicated (dan berduit serta punya banyak waktu luang) untuk memburu informasi lebih jauh. Informasi yang mereka dapat itu kemudian mereka olah lagi jadi konten yang bisa kalian temukan di Sherlockology. Dan isi Sherlockology sebenarnya gak cuma tulisan. Ada juga wallpaper sama kalender bulanan, all based on Sherlock’s contentThey even provided some free-Sherlock-based-ringtone! Last but not least, bagi Sherlockian yang galau karena gak bisa beli “Sherlock: The Casebook”ada penghiburan dengan casebook versi Sherlockology yang bisa didownload setelah memecahkan beberapa games.

The Consulting Criminal
The Consulting Criminal

One of the pretty wallpaper from Sherlockology. Credits to Sherlockology

Apalagi kalau kita ngomongin K-Pop. I mean, kalau gak ada internet, fandom, dan produsage, saya gak yakin K-Pop bisa jadi seheboh ini. Kenapa? Karena seperti yang kita semua ketahui dengan baik, K-Pop atau Korean Pop berasal dari Korea SelatanSo naturally, those aesthetically pleasing idols speaks Korean. Their songs are in Korean! Bahasa Inggrisnya repetitif dan cuma kata/kalimat yang anak SD di Indonesia pun tahu, dengan grammar yang suka bikin para grammar nazi like me  pengen ngiris nadi dan pronounciationnya bikin kuping bernanah (well oke mungkin ini ekstrim, tapi paham lah ya maksudnya)Variety show atau interview yang ada merekanya pun, karena umumnya dilakukan di Korea Selatan oleh TV Korea Selatan juga, is in Korean. Dan kalaupun mereka harus ngomong bahasa Inggris, hampir 95% dari mereka  bahasa Inggrisnya berantakan dan cuma bisa “Thank you, I love you” doang. Tapi karena ada produsage dari para fans yang bisa berbahasa Korea itu, fans internasional pun bisa ikut terjerumus menikmati K-Pop dan variety show serta drama Korea biarpun mereka gak bisa bahasa Korea sama sekali.

Para fans K-Pop menjadi produsen dengan mengunggah video-video para idol tersebut ke internet agar dapat ditonton dan didownload oleh fans-fans internasional.  Mereka juga memproduksi konten baru dengan membuat gambar atau .gif, like this:


Shinhwa's This Love
this pretty .gif doesn’t materialize out of thin air, mind you. I found it here

Bahkan kadang, mereka mengedit gambar atau .gif tersebut: mulai dari merubah tone warna, menambahkan komentar mereka, hingga menyatukannya dengan gambar atau .gif lain. Dan gambar serta .gif yang dibuat oleh fans ini kemudian dikonsumsi lagi oleh fansfans lain, dan bukan tidak mungkin kemudian digunakan oleh fans lain untuk memproduksi konten baru lagi.

1370060264904I particularly like the picture, the tone, and the quote. And this is a bit tricky because I only remember finding it in my timeline, not knowing who made it. Sorry ;_;

Namun kegiatan produsage yang paling penting dalam fandom K-Pop dan berperan besar dalam penyebaran K-Pop sesungguhnya adalah produsage yang dilakukan para subbers. Mereka menterjemahkan video variety show, drama, interview, dan bahkan cuplikan konser artis K-Pop dan memberikan subtitle (biasanya berbahasa Inggris atau Cina) agar fans internasional yang tidak bisa berbahasa Korea dapat turut menikmati acara-acara tersebut dan memahami perkataan artis yang mereka sukai. Bahkan terkadang, subbers memproduksi konten dengan cara menterjemahkan subtitle berbahasa Inggris yang sudah ada ke bahasa lain, misalnya bahasa Indonesia. Sekarang, nyari fansubs pun gampang. Website seperti Kshownow atau GoodDrama yang menyediakan tons of subbed videos sekarang bertebaran di mana-mana. Di tumblr juga banyak.

Selain nge-sub video, fans juga menerjemahkan berbahasa Korea menjadi berbahasa Inggris (Allkpop, Netizenbuzz), bahasa Indonesia (KoreanIndo), dan berbagai bahasa lainnya. Kini, fans bahkan bisa memproduksi konten melalui twitter, yaitu dengan melakukan live-tweeting  suatu event atau tv showFans juga bisa memproduksi konten dengan sekedar menterjemahkan kutipan dari sebuah artikel, atau bahkan hanya menterjemahkan judul sebuah artikel.

Makanya, karena sudah terbiasa dengan paparan berbagai produsage di atas itu lah, begitu mendengar tentang produsag di kelas, otak saya langsung secara otomatis menghubungkannya dengan fandom dan berbagai fanworks serta konten-konten yang muncul di timeline saya setiap harinya. Memang, masih ada pertanyaan yang menggantung mengenai masalah copyright atas konten-konten tertentu yang diproduksi oleh para fansBut for me, personally, fanworks and all of the fan-produced contents in fandom are real example of produsage at it’s finest.

Advertisements

Author:

An emotionally invested enthusiast of pop culture. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s